DARI KEONG EMAS, MEMUNGUT ILMU² EMAS

0
501

خط جميل+مخطوطة ✒
Ditulis Oleh: Didin Sirojudin AR

PERJALANAN paling mengasyikkan adalah “perjalanan sambil nengok kanan-kiri” :
قل سيروافى الأرض فانظروا
_(Katakan: “Berjalanlah di bumi, lalu lihatlah!”)._
Seperti *Safari Seni* 190an santri Pesantren Kaligrafi Alquran Lemka ke Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Di anjungan Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal (BQ & MI), para santri yg lagi PPL Sejarah menyaksikan *dua dunia satu atap* yaitu tulisan/lukisan kaligrafi dari DUNIA SENI dan naskah2 kuno dari DUNIA FILOLOGI. Mereka berniat melirikkan pandangan kepada keduanya. Sebab, kajian kaligrafi dan filologi, selama ini, seakan, “pisah ranjang”. Ada yg hanya kesengsem kaligrafi lantaran lebih *cantik* dan *komersil.* Yg satunya seriuuuuuus sendirian, sehingga kajian terhadap naskah2 Nusantara didominasi para *filolog* — yg hanya mengkaji teks — bukan oleh kaligrafer dan peminat atau sejarawan seni.
“Kami ingin mengkombinasi keduanya,” kata seorang santriwati Lemka yg saban hari tangannya belepotan karena dipakai ngaduk cat. Ia mengibaratkannya dg teknik _mixed media_ atau media campuran oil painting dg acrylic dalam lukisan. “Minyak dan air saja bisa dipersatukan dalam canvas. Gak seperti kata *Mansyur S* penyanyi dangdut itu,” tambahnya sedikit berseloroh. Benar juga sich. Lha wong partai2 politik yg berlawanan saja bisa berkoalisi. 😄🤣
Benar2 asyiiiiik nih. Karya2 kaligrafi di gedung buatan Presiden Soeharto 1997 warisan *Festival Istiqlal* I & II (yg di situ saya ikut terlibat) ini menerangkan banyak hal: Teknik apresiasi dan variasi gaya para master khat dengan sederet nama para kaligrafer. Informasi tentang perkakas tulis & lukis, dan pelajaran yg dimulai dari rancang bangun desain dan teknik menggores kalam dan menorehkan kuas, sampai finishing touch melalui pertimbangan unsur2 elemen rupa: unsur garis, bentuk, volume, cahaya, warna, tekstur, ruang, dan bidang. Mazhab2 Tradisional dan kontemporer. Karya2 hasil MTQ Nasional (Naskah, Hiasan Mushaf, Dekorasi, dan Kontemporer) dan kompetisi di Islamic Art Festival. Banyak pula lukisan kaligrafi koleksi Lemka. Beberapa bahkan diterakan pada benda2 tua seperti gerabah, kayu, kaca, dan kain tapis. Kanvaslah yang paling mendominasi, kebanyakan produk tahun 2000an. Tampilan karya2 ini seperti menelusuri zona waktu yg telah melahirkan keahlian dan kebudayaan semesta:
الخط من الصناعات المدنية التى تقوى وتضعف بقوة الحضارة وضعفها.
_(“Kaligrafi adalah produk kemajuan yang menguat dan melemah karena kuat dan lemahnya kebudayaan.”)_

Pameran di BQ & MI didominasi oleh naskah2 *Al-Qur’an* & *Tafsir* berbentuk manuskrip & cetakan. Banyak pula manuskrip keagamaan bukan Al-Qur’an. Pendukungnya adalah karya2 arsitektur, tekstil, nisan, seni rupa tradisional, seni rupa moderen, dan warisan budaya Islam _(Islamic Heritage)._ Yg paling menarik adalah naskah2 Al-Qur’an tua dari abad 17-20 dan tulisan tangan Al-Qur’an moderen yang dipelopori oleh *Mushaf Istiqlal* (1991-1995), Mushaf Sundawi, Mushaf Jakarta, Mushaf Ibu Tien Soeharto, sampai Mushaf Al-Bantani. Mushaf2 kuno ini hasil temuan yg arsipnya tersimpan dengan rapi di Bali, Ternate/Tidore, NTB, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Banten, Cirebon, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Arsip2 Al-Qur’an kuno ini dipercantik oleh arsip2 kuno non-Qur’an seperti Serat Raja-raja, Serat Ambiya, Nasihat Bijak, Pelajaran Agama, dan _Qaulul Haq_ atau Surat Perjanjian. Perhatian tertuju pada rasam dan sisi visualnya, yaitu *iluminasi* dan *kaligrafi* yang jadi “makanan sehari-hari” santri Lemka tapi kurang mendapat perhatian mendetail dari para peminat kajian naskah Nusantara. “Untuk zamannya, semuanya indah2, rrrrrrrrruar biasa,” komentar para santri. “Dan *Mushaf Istiqlal,* ini dia maha karya putra-putri terbaik Indonesia, karena beriluminasi RAGAM HIAS NUSANTARA yg melibatkan desainer, para khattat kreatif _(warraqun mubdi’un,_ الوراقون المبدعون), dan iluminator ahli.” Yg bikin santri Lemka terkagum-kagum karena ukurannya yg raksasa adalah *Mushaf Wonosobo* dan yg mengagetkan adalah *Al-Qur’an Pusaka* Bung Karno, karena ditulis oleh H. Salim Fachri dari Langkat, guru khatnya Pak Didin. Salim Fachri belajar khat kepada Sayid Ibrahim di Mesir. Nampak cahaya Islam tambah jelas via pancaran cahaya Al-Quran:
القرآن هوأول رافع لمناظرالخط العربى
_(“Al-Qur’an adalah yg pertama kali mengangkat mercusuar kaligrafi.”)_
Seluruh KERJA KREATIF ini, sebagaimana dalam tradisi penyalinan *mushaf* dan teks2 non-Qur’anis di Dunia Islam, masuk lingkup gerakan ilmiah dan kebudayaan mengiringi pergerakan sejarah kebudayaan umat manusia. _WARRAQAH_ (الوراقة) atau “kegiatan penyalinan naskah: penulisannya, penyebarannya, editingnya, dan distribusinya” benar2 jadi barokah untuk para penulis (mencakup iluminator dan petugas pengEMASan), pasar kertas dan peralatan tulis seperti kalam khat, tinta dan wadahnya, penjilidan dan penjual buku.
Setelah rehat sekitar dua jam untuk menikmati pusat2 hiburan Taman Mini, para santri Lemka masuk Teater Imax Keong Emas untuk nonton film mengharukan yg bikin mereka nangis sesenggukan, *The Journey to Mekkah,* kisah sulitnya perjananan Ibnu Batutah yg harus bersabung nyawa untuk pergi haji. Nobar ini sebagai “praktik merasakan” sebagian dari naskah filologis Ibnu Juza’i, _Tuhfah an-Nuzzar fi Gara’ib al-Amshar wa ‘Aja’ib al-Asfar_ (Persembahan Seorang Pengamat tentang Kota-Kota Asing dan Perjalanan yg Mengagumkan) atau yg lebih dikenal dengan kitab _Al-Rihlah_ (journey, perjalanan) Ibnu Batutah. Hebat tidak? Ketika usia 21 tahun, Ibnu Batutah yg lahir di Marokko 25/2/1304 memulai perjalanan panjang yang mencakup 120.700 km selama hampir 3 dasawarsa. Tiga kali lebih dahsyat daripada pengembara Marcopolo! Ibnu Batutah berkelana dg tujuan untuk mengenal bangsa2 baru dan bertemu banyak orang dari latarbelakang dan kebudayaan yang beragam. Karena terkagum-kagum dg perjalanan pertamanya, ia bersumpah untuk mengunjungi sebanyak mungkin tempat yg dapat dikunjunginya selama hayatnya. Salahsatunya Pulau Sumatera, yg disebutnya “Pulau Jawa yang menghijau”. Ibnu Batutah sampai di pelabuhan Kerajaan Samudera Pasai yg disebutnya “kota yg indah”. 🏃🏽‍♂🚶🏾‍♂🏃🏻‍♀📖
Ya, *seindah perjalanan menuntut ilmu* dan seindah bisa menautkan studi *kaligrafi* dg *filologi.* Dari Keong Emas, santri Lemka berhasil memungut ilmu² emas. Namun, pesan paling mengesankannya adalah: *”Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke Negeri Cina.”*
😆🔹✒خ ط ج مى لم خ طوط ة